~stand together~

sixth batch sambestarian's blog

Showing posts with label karya hati. Show all posts
Showing posts with label karya hati. Show all posts


Sebenarnya benda ni dh lame dh berlaku kat ak, tp tak tau kenape sekarang baru terasa nk citer balik kat smua orang. Anyway, this story could be lame to others, but to me, it kinda taught me a great lesson to remember. Enjoy this story anyway, n even if u can't, jst pretend that u enjoyed it.

Hari itu merupakan hari Jumaat. Dan sudah menjadi kebiasaan, rather kewajipan bg ak yang tak seberapa ni untuk menghulurkan derma walau sekecil mana pun bilangannya ketika solat Jumaat. Namun hari tu agak berbeza sket. Ak agak kekurangan duit untuk diderma ketika solat di masjid, bukan nak kata takder duit, tp tak cukup duit kecil untuk dihulurkan ke dalam tabung masjid, padahal mase tu ak ade sekeping not duit 50 yang belum dipecahkan lg. Tp ntah kenape ntah mase tu, hati kecil ak bersuara untuk tidak menderma pada hari tu atas dasar memikirkan tambang perjalanan untuk ak balik naek LRT nnti dan sebab yang utama iaitu tidak mahu memecahkan duit keping RM50 tu (Ni orang yang rapat ngan ak jer tau sbb kenape, stupid reason anyway..haha).

To make the story short, mase time nk balik LRT tu, ak accidentally bought the wrong ticket, n the funny thing is that I only realized that fact right after I boarded the train. So, I ended up spending more than I should be and the saddest part is that ak terpaksa gak memecahkan duit RM50 tu.

But, I didn't really felt super frustrated for the fact that I made a mistake, but rather I felt the irony of this incident in which Allah the Almighty had arranged for me. Dan memikirkan betapa hebatnya Allah memainkan plot jalan citer ni, I can only smiled on that fact and spontaneously uttered: "SubhanaAllah"

N on the way back, ak ternampak seorang Melayu tua meminta sedekah by the side of the road, ak trus mencapai duit di dalam poket ak dan sedekah kepadanya demi untuk menebus kedegilan ak untuk tidak sedekah di masjid sebentar td.

Lame story, right? Hope u get the moral of this story.

WaAllahua'lam.



teruskan membaca lagi sahabat...


Jika diizinkan
Aku ingin menyelinap seantero dunia
Meredah seluruh hutan belantara
Mencari keberkatan Tuhan Yang Esa

Jika diizinkan
Aku ingin terus mengembara
Menimba segala isi semesta
Menjadi tunjang agama dan negara

Jika diizinkan
Aku ingin mengharungi dunia
Menempuh badai atas nama perwira
Untuk Islam agama yang tecinta

Jika diizinkan
Aku ingin menyelami lautan
Merasai segala manis kejayaan
Menggilap segala pahit perjuangan

Jika diizinkan
Aku inginkan ketenangan
Yang terbina atas dasar ketaqwaan
Natijah daripada halawatul iman

Jika diizinkan
Aku inginkan seorang teman
Yang sudi berkongsi pandangan
Saat kebuntuan menerima ujian

Jika diizinkan
Aku ingin menikmati cinta
Bukan hanya dari makhluk bernama hamba
Tetapi juga dari pencipta seisi maya

Jika diizinkan
Aku inginkan sejuta kemaafan
bagi setiap kelakuan dan amalan
moga mendapat ampunan dan keredhaan

Jika diizinkan
Sebelum tamat jihadku ini
Aku mohon kepada-Mu Ya Robbi
Pimpinlah kami ke syurga-Mu yang abadi

"Ya Allah Ya Tuhan kami..pimpinlah hati2 kami dlm tiap detik nafas kami...peliharalah diri kami daripada melakukan kejahatan dan kerosakan di bumi-Mu ini agar kami dpt menikmati nikmat yang kekal di kemudian hari...Amin Ya Rabbal A'lamin.."


teruskan membaca lagi sahabat...


This is in refer to the recent MoE's (Ministry of Education) proposal to make the English subject a compulsory pass in the SPM examination. And I think this proposal is a good proposal and should be taken seriously.

Of course, if you were to ask me on the relevance of this proposal, my answer would be a definite "yes". But hey, that's just solely based on my opinion who's been constantly indulged in the usage of English for almost 16 years (been learning English since I was 3-Peter and Jane). But taking into account of other people's situations and backgrounds, it would have been a different story, isn't it?



I would rather not go into details as to how disappointing and pessimistic as to certain comments that can be heard and be read from the newspaper or blogs, and I would also rather look into this matter without political influences that would corrupt my objectivity and the relevance of this proposal. (ISA dowh..)

English, without a doubt, is one of the most widely used language in the world. Or in short, if you CAN speak English, you CAN almost survive in any parts of this world. And looking at Malaysia back in the old days, it was necessary for students to have a pass in the English subject in the MCE (a precursor to the SPM). And surprisingly, I found out that Malaysia was one of best in the South East region in terms of the English language quality. But this policy was put into halt later in the 1970's. In my personal opinion, that's where we went wrong.

If you were to ask my dad who's lived long enough from the 1950's, he would strongly agree with you if you were to say that the quality of English among the students has significantly dropped. (I would also agree with that). Ok, lets go back to the present, shall we? Imagine a form 5 student or worse off, a university graduate who still don't have a good command of English, do you think he would have been successful if he were to apply for a post in a big company, or rather would the potential employee be even impressed with the individual who has scored like, exceptionally well in their exams, but can't speak well in English? (Please don't doubt this, I've already gone through the whole process of job interviewing and working, and English is a definite must if you wanna survive)

Reality hurts. Sure, someone would tell me: "Kesian lah kat orang2 yg duduk kat ulu dengan pedalaman, nnti diorang tak dpt catch up, tak pun ramai yang nnti akan fail dalam peperiksaan SPM.." or even "Dengan mementingkan bahasa Inggeris, kita akan mengabaikan pula bahasa kebangsaan kita nnti atau menjadikan kita kurang patriotik terhadap negara kita sendiri..". Yes, it would be really difficult for them, but just one thing that I can say to these individuals, don't underestimate those students, they have proven countless times that they CAN do really well if you give them the chance AND OUR OWN INITIATIVE OF GIVING THEM QUALITY EDUCATION AND LEARNING MATERIALS. (jst want to emphasize, not shouting...).

To those who think that it is still not the time to implement this proposal, then I would then questioned them as to when will it be the right time to implement this proposal? This is the future of our own generations we are talking about, not some old coot who's only waiting for their death invitation (Ok2, that's rather harsh).

Of course, I would rather not go into rash mode in this kind of proposal. To be able to implement it successfully, as I've emphasized earlier, we have to ensure that we have the necessary resources as to the learning materials and quality education. And self awareness among the parents regarding the importance of learning English would really help as well, as my parents did (that explains the Peter and Jane part...).

And last but not least, by implementing this proposal, it does not make less patriotic nor does it make into some kinda freak who forgot that he is a Malay (personally, I would prefer "Bahasa Melayu hilang daripada bangsa Melayu" rather than "Islam hilang daripada bangsa Melayu"), but by looking into a bigger picture, by having a good command of English, it has made me more confident in my own capabilities of conversing with other people, thus boosting my own self-confidence.

But, this is my own opinion, you must have your own opinion, and I would be more than happy if you were to share it with me or critisize me.

WaAllahua'lam.




teruskan membaca lagi sahabat...


Bismillah walhamdulillah wa solat wa salam ala rasulillah wa ahlihi wa sahbihi wa ma walah.
Saya berjaya menyiapkan beberapa post sebelum mendaftar di UIA.Syukur dan moga-moga artikel itu bermanfaat.Juga terima kasih atas feedback yang diberikan(ada jugak orang yang nak membaca,thanks kengkawan).

Tidak sedikit yang memberikan komentar yang agak bernas.Inilah mungkin kelebihan blog.Setiap sesuatu yang dibuat atau dikatakan akan di'komen' oleh pemerhati-pemerhati.Jika terdapat apa-apa kekeliruan atau sebarang disagreement akan dihantar terus kepada penulis blog.Ini dapat menghapuskan kekeliruan-kekeliruan yang
timbul atau api-api fitnah yang disebar oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.Kelebihan sebegini benar-benar bermanfaat terutama bagi wakil rakyat dan juga tanggungannya.

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ،"
"Takutlah kamu terhadap sangkaan-sangkaan sesungguhnya sangkaan itu ialah berita yang paling dusta"(riwayat Bukhari,Muslim dan Abu Daud.Hadis di atas daripada Abu Hurairah).

Saya baru-baru ini telah menerima komentar pada artikel saya iaitu "Krisis Ilmu dan Masyarakat" dan juga artikel "Apabila Otak Beku dan Lidah Kelu".Antara komen pada artikel pertama ialah:Anonymous said...

"yang ada sekarang ini seperti cerita import daripada Indonesia(akak jangan marah aku ek)""Upik Abu dan Laura-sentiasa menemani saya apabila saya sedang menyapu sampah ,menyidai baju dan kerja-kerja rumah yang anak dara patut buat(keh2)"

-penulis di dlm artikel sdg mengeji(bahasa sopannya memberi komentar)bhwa cerita2 spti ini adlh picisan..namun beliau telah menyatakan statement yg menunjukkan beliau sndiri menonton drama picisan ini dan sekaligus menunjukkan penyokongan beliau kpd apa yg dikritiknya(secara tidak langsung)..mana mungkin kita mengeji dan dlm masa yg sama kita menyokong..bercanggah ilmunya dgn amlan..umpama membenci Israel kaum yg dilaknat Allah itu krn tlh membunuh bilionan juta umat Islam Palestin yg tidak berdosa dan dlm masa yg sama msh enggan memboikot brngn Yahudi(Israel)..ini slh satu contoh realiti zmn skrg..sama2 muhasabah..harap maaf segala kekasaran bahasa(jika ada)..terima kasih kerana memaafkan..terima kasih.

Komen artikel kedua harap dirujuk di link di atas.

Ya,tentunya saya terkejut.Alhamdulillah,saya tidak mampu bertindak..



seperti mana tindakan orang cetek ilmu yang mencerca dan memaki orang lain apabila ditegur;seakan-akan dia seorang yang maksum.Moga-moga Allah pelihara kita daripada perbuatan ini.

Saya menerima komentar anonymous di atas.Benar,mana mungkin kita mengeji pada masa yang sama kita menyokong.

Ingin saya jelaskan bahawa dengan menonton tidaklah bermaksud menyokong.Berapa ramai orang menonton kemungkaran di jalanan atau di program2 televisyen secara khususnya(untuk persamaan dalam fakta kes),tetapi tidak sekali menyokongnya.Saya tidak pasti adakah kita, apabila menonton siaran bola sepak,menjadikan kita menyokong segala macam yang boleh dikatakan munkar yang terlibat,seperti arak(Liverpool),Israel(Arsenal),badan yang menghukum pemain jika menunujukkan sokongan terhadap Palestin(Persatuan bola sepak Sepanyol terhadap Kanoute),dan juga judi(keseluruhan permainan itu sendiri).Adakah kita berpendirian menyokong unsur-unsur tersebut dengan hanya kita menontonnya?(saya jawab tidak)

Dan itu jika kita menonton siaran yang tiada manfaatnya selain hiburan.

Bagaimana pula jika kita menonton siaran yang kita gelarkan Islamik seperti Kiamat Sudah Dekat,Cafe Akhil Hayy atau ayat-ayat cinta itu sendiri.Bagaimana kita mencerna aspek negatif(buka aurat contoh terbesar) yang terdapat dalam cerita-cerita sebegitu?

Benar,mungkin seseorang boleh mengatakan bahawa cerita-cerita yang islamik tersebut mempunyai moralnya tersendiri(maka maksiat itu diharuskan utntuk menyampaikan moral;walaupun matlamat tak menghalalkan cara),atau kebaikannya telah 'menelan habis' keburukannya yang wujud dalam skala yang kecil(walaupun percampuran yang batil dan yang haq tetap menghasilkan yang batil;melainkanlah ada orang yang menggunakan kaedah syar'iah:"dibolehkan untuk membuat kemafsadan yang kecil untuk kemaslahatan yang besar";saya tak pastilah apa yang dimaksudkan maslahah yang besar hanya untuk menyampaikan mesej islam yang agak ringan).Tetapi adakah jika kita menontonnya kita menyokong kemungkaran yang ditonjolkan?Tentunya tidak bukan.Jelaslah bahawa menyokong tidaklah dengan semata-mata menonton.

Maka bagaimana kita letakkan asas pendirian dalam perkara sebegini?

Saya berpendapat asas personaliti perlu diambil kira.Sebagaimana manusia itu melihat sebuah gelas itu separuh penuh atau separuh kosong(meminjam kata-kata ustaz Hazrizal),begitulah juga kita apabila berhadapan dengan perkara-perkara buruk,lagha dan munkar itu sendiri.Kita perlu menCERNA maklumat yang diterima,bukan hanya telan bulat-bulat.Jadikan perkara NEGATIF yang terbentang di hadapan kita sebagai suatu yang POSITIF.

Apabila melihat musibah menimpa orang lain,kita segera bersyukur kepadaNya atas nikmat diamankan daripada musibah itu.Berat mata memandang,lagi berat bahu memikul.

Apabila melihat orang lain membuat munkar,falyughaiyiruhu(ubah,tukar) dan pandanglah ia sebagai motivasi untuk kita terus beristiqamah membuat hasanah.Ini kerana:

"..sesungguhnya jika salah seorang daripada kamu mengerjakan amalan ahli syurga sehingga tidak ada jarak antaranya dan syurga melainkan sehasta,kemudian terdahulu atasnya ketentuan tulisan(ahli syurga atau neraka),maka masuklah ia ke dalam neraka.Dan sesungguhnya jika salah seorang daripada kamu melakukan amalan ahli neraka sehingga tidak ada jarak di antaranya dan neraka melainkan sehasta,kemudian terdahulu atasnya ketentuan tulisan ahli syurga,maka masuklah ia kedalamnya(Riwayat Bukhari dan Muslim daripada Ibn Mas'ud)(Hadis ke-4 dalam hadis 40-Imam Nawawi).Apa yang dapat difahami melalui hadis ini ialah mungkin kita beramal dengan amalan makruf dengan banyak,tetapi pada saat akhir kita 'berjaya' dipalingkan oleh syaitan dan lainnya.Maka Istiqamah itu penting.(Wallahu a'lam,sila rujuk hadis 40 untuk lebih aham,terbitan Dewan Pustaka Fajar)

Atas dasar inilah,apabila kita melihat Al-Quran,bagaimana Allah menceritakan sejarah-sejarah silam yang mereka ini KUFUR kepada Allah.Allah menceritakan satu-persatu kejahatan mereka.Untuk apakah ini?Tentunya supaya diambil pengajaran.

Untuk sinetron yang menjadi bualan kita kini,BENAR tiada pengajaran yang boleh diambil.Atau terdapat pengajaran tetapi pengarah atau pencipta cerita ini tidak memaksudkan drama ini menampilkan pengajaran itu.Dengan kata lain itu hanyalah sampingan semata-mata.

Maka apakah PENGAJARAN yang dapat diambil daripada cerita ini?

Saya apabila melihat cerita itu,saya dapat memerhatikan FENOMENA REMAJA KINI;pewaris negara;yang kini sering di'bantai' dengan label-label budaya kuning,hedonisme,masalah dadah dan apa-apa yang boleh difikirkan kita sewaktu membaca artikel ini.

Apakah yang meLALAIkan generasi-Y ini daripada menumpukan diri dalam pembelajaran?

Apakah SALAH mereka sehingga ditohmah dengan segala macam perkara negatif oleh masyarakat?Di manakah KURANGnya seseorang individu apabila dia menjadi antara 'mereka-mereka' yang boleh kita perhatikan di Bukit Bintang (saya takleh nak bg contoh sbb tak penah pegi).

Bagaimanakah CARA FIKIR mereka sehingga mereka memandang baik perbuatan-perbuatan seperti rempit,dadah,pergaulan bebas dan ZINA?

Inilah yang cuba dicari oleh saya ketika menonton cerita-cerita sebegini.


Agak naif untuk saya katakan saya tidak langsung menonton sinetron tersebut dengan niat menikmatinya sebagai HIBURAN.Ya,saya akui saya menontonnya dengan gelak ketawa dan terhibur dengan unsur-unsur humor dalamnya.Tetapi saya tidak menqasadkan HANYA untuk mendapat hiburan.

Bagaimana pendirian saya kini terhadap sinetron itu?Tetap picisan atas dasar kurangnya nilai-nilai positif yang ditampilkan meskipun saya mengakui saya menontonnya.

Adakah saya mengeji?YA!

Adakah saya menyokong?TIDAK SAMA SEKALI!Saya tidak akan menyokong sebarang usaha pertambahan cerita-cerita genre sebegini di tanah air oleh artis-artis kita.

Adakah dengan pendirian MENGEJI dan TIDAK MENYOKONG menghalang saya daripada mengambil pengajaran di sebalik cerita itu?

فَاعْتَبِرُواْ يأُوْلِى الاٌّبْصَـرِ
"Maka ambillah pengajaran wahai orang yang boleh memandang(pen-)(Al Hasyr:2)

Mengenai kemaafan,saya agak teragak-agak(apa punya bahasa daa) untuk memberinya dengan mudah(saya mengharapkan perbualan direct; yakni saya ingin mengetahui identiti anoymous).Tetapi siapalah saya untuk tidak memaafkan sedangkan seperti apa yang selalu dikatakan"sedangkan nabi pon maafkan umat"(maklumat ini agak tidak tepat cuba tya ustaz).Maka saya mengucapkan "sama-sama" atas "terima kasih" anda.

Dan saya juga berminat untuk meminta maaf jika artikel yang saya post kan ini tidak menampilkan imej HUFFAZ TEKNOKRAT yang dicanang dengan agak berdegar-degar(strictly personal opinion).

Wallahu Musta'an.Moga-moga kita dalam petunjuknya selalu.

Ahmad Afiq B Arshad
Rumah,18

ps:Saya menantikan identiti si Anonymous...Takyah takut saya tak makan orang.


teruskan membaca lagi sahabat...


Slm,

So, I've officially became the new admin for this blog. And I am honored to be part of the team. Hence, I thought that I'd introduce myself.

PURPOSE

Well, mainly to kill some time. Initially, I had the same dilemma as Afiq Arshad whether I should accept the invitation or not? But after I did some serious thinking of five minutes, I thought it would do good for me since my own blog is not that popular compared to others. Well, thinking of the thought that I'll be able share some of my opinions with



others, I became euphoric at the idea. As this blog will be a much better platform for me to be able to share with you guys and vice versa.

METHODOLOGY/FIKRAH

I have to make it clear that I'll be focusing mostly about matters concerning our true religion. And I would also like to make very clear that I can accept opinions of the others and I stand to be corrected. In much simpler words, my opinions are not absolute and can be criticised regardless of who you are as long as you brought forward evidence from the Quran and the Sunnah.

And I will also ocassionally make mistakes here and then. If you happen to come across them, please correct me, since I am clearly not an authority in the field of tafsir,hadith or feqh. (Budak accounting nak citer psal agama...)

But I'll make sure that everything that I shared with u guys came from a reliable sources so that there won't be any question as to the source of the information.

And if u happen to came across something that u're not very clear at, please feel free to ask.

MEDIUM OF COMMUNICATION

I'll be using full english as my medium of communication, of course. Since I'm not that fluent in using the Bahasa Baku in Malay like Afiq Arshad. (Sorry lah Afiq, tak letak hyperlink gi friendster).

Jst joking, I will alternate between the two languages.


And last but not least, I hope that I can learn new things from you guys. Again, I'm really honored that I received the invitation.

WaAllahua'lam.



teruskan membaca lagi sahabat...



Ketika mula bertemu
Terasa bagai telah lama bersua
Kau sambut hulur tanganku
Bertegur sapa penuh mesra


Masa terus berlalu
Dan kita tetap seiringan berjalan
Menempuh onak liku

Lalui semua suka dan duka bersama

Biarlah apapun rahsia
Dan kelemahanmu tetap engkau temanku


Riangnya saat kita ketawa
Asyik senda dan bercerita

Walau sesekali pandangan kita berbeza

Andainya tetap serupa
Adakalanya kita juga saling terluka

Namun di akhirnya kita tetap bersama

Dan kini dipisahkan dua benua
Saling mengejar cita
Tak pernah kulupakan

Detik yang indah bersamamu temanku


Kupasti suatu masa
Engkau dan aku kan bertemu semula

Kembali menjalinkan detik nan indah
Untuk kenangan bersama


"Sahabat yang beriman ibarat mentari yang menyinar.



Sahabat yang setia bagai pewangi yang mengharumkan.Sahabat sejati menjadi pendorong impian.Sahabat berhati mulia membawa kita ke jalan Allah"


p/s~~bes sangat lagu nie...bile dengar je mesti teringat kat
korang semua.....rindunye tak terkate...huhu



teruskan membaca lagi sahabat...

Bismillah wal hamdulillah wasolati wasalam ala rasulillah wa alihi wasahbihi wa ma walah..

Setelah berfikir dalam agak tempoh yang panjang(ader penyakit was-was la nih), saya membuat keputusan untuk bersama-sama menjadi admin. Terima kasih kepada rakan yang menjemput.

Tujuan

Angin yang membawa kemelut blog ini menurut amatan saya telah lama bertiup.Tetapi menurut amatan saya lagi kesan 'angin' yang membuat ramai berebut-rebut mencipta blog sendiri ialah selepas PRU-12 (alhamdulillah menang banyak..hehe).Saya juga melihat beberapa rakan yang mula di dalam blog.Alhamdulillah lagi, moga blog mereka



bermanfaat terhadap orang lain,maka hasanah itu kembal kepada mereka.

Saya secara jujurnya tidak mahu terlibat dalam apa jenis blog pada awalnya.Tetapi setelah mengambil kira beberapa faktor(faktor utama nya ialah ini bukan blog persendirian,ini lebih kepada blog umum),saya menukar fikiran maka jadilah saya seorang admin di blog ini.

Firman Allah:"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada ALLAH,mengerjakan amal soleh dan mengatakan sesungguhnya aku ialah seorang yang termasuk daripada orang yang menyerah diri(fusilat:33)

Maka saya cuba untuk menjadi orang yang disebutkan di atas.

Sabda rasullah:يَحْمِلُ هَذَا الْعِلمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُه: يَنْفَوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ، وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ، وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَMaksudnya:Sentiasa membawa ilmu ini mereka yang adil dari para penyambung (dari setiap generasi). Mereka menafikan (menentang) penyelewengan golongan yang melampaui batas, dakwaan bohong golongan yang bathil (sesat) dan takwilan golongan jahil.(mintak maap x sempat takhrij)

Maka tiga tanggungjawab di atas ialah antara tujuan atau matlamat dalam penulisan artikel saya.Tetapi jangan salah faham sehingga mungkin ada orang yang berkata"ekeleh ingat dia sorang jer ke pandai agama" atau "eleh cam dah banyak sangat ilmu lak nak btol kan org len"
Tidak sekali-kali saya ingin menunjukkan power atau riya'.Saya bercakap atas kapisiti ilmu saya.Dan saya akan cuba mengelakkan daripada 'memandai-mandai'.

Wallhu musta'an.Bersama-samalah kita dalam bantu-membantu dalam birr wa taqwa

Metodologi

Apabila saya menulis tentang agama,saya akan cuba meletakkan dalil dan sumber.Jika dalil itu ialah hadis maka saya akan cuba cari takhrijnyer.Tapi saya insan yang penuh daif,tidak pula belajar secara formal mengenai agama mulia ini.Maka sebarang ulasan atau ketidak'tepat'an takwilan itu dialukan-alukan untuk sesiapa yang berkemampuan utk membetulkan.

Tetapi jika saya menyentuh tentang pengalaman maka saya cuba cerna pengalaman itu supaya ianya tidak hanya menjadi satu cerita kosong,sebaliknya,boleh menjadi ibrah bagi orah lain

Laras bahasa

Bahasa pengantar ialah bahasa Melayu,of course. Saya tidak mempunyai kepakaran dalam bahasa Inggeris seperti penulis blog tegar yang lain.Seperti Ahmad Naufal atau Afiq Faiz dalam blog mereka(sori tak hyperlink).

Sekadar boleh saya akan menggunakan bahasa baku.Dan juga bahasa arab.(saper boleh ajar nk tulis jawi),setakat ini saya copy and paste.


Harapan

Saya berharap ramai lagi yang mengunjungi blog ini dan memberi sumbangan idea dan kritikan membina agar untuk maslahah kita bersama


ps:Banyak lagi nak tulis sebenarnya tapi dah azan asar.Gerak masjid dulu ek..


Ahmad Afiq bin Arshad
Rumah,seksyen 18


teruskan membaca lagi sahabat...


Seorang lelaki tua yang baru kematian isteri tinggal bersama anaknya, Arwan dan menantu perempuannya, Rina, serta anak pasangan itu,Viva yang baru berusia enam tahun. Keadaan lelaki tua itu agak uzur, jari-jemarinya sentiasa menggeletar dan pandangan pula semakin hari semakin kabur.


Malam pertama berpindah ke rumah anaknya, mereka makan malam bersama. Lelaki tua merasa kurang selesa menikmati hidangan di meja makan. Dia merasa amat canggung menggunakan sudu dan garpu. Selama ini dia gemar bersila, tapi di rumah anaknya dia tiada pilihan. Cukup sukar dirasakannya, sehingga makanan bersepah tanpa dapat dikawal. Bukan dia tidak merasa malu berkeadaan begitu di depan anak menantu, tetapi dia gagal menahannya. Lantaran kerap benar dijeling menantu, seleranya patah. Dan tatkala dia mencapai gelas minuman, pegangannya terlucut.

Prannnnngggggg ... !! Bertaburan kaca di lantai. Lelaki tua serba salah. Dia bangun,cuba mengutip serpihan gelas itu, tapi Arwan melarangnya. Rina masam mencuka. Viva pula kesian melihat datuknya, tapi dia hanya melihat, kemudian makan semula.


"Esok ayah tak boleh makan bersama kita," Viva mendengar ibunya berkata pada ayah, sebaik datuk menghilangkan diri ke dalam bilik.


Arwan hanya membisu. Namun sempat anak kecil itu merenung tajam ke dalam mata Arwan. Sebagai memenuhi tuntutan Rina, Arwan membeli sebuah meja kecil yang rendah, lalu diletakkan di suatu sudut bilik makan. Di situlah ayahnya menikmati hidangan bersendirian, sambil anak menantu makan di meja berhampiran. Viva pula dihalang apabila dia merengek mahu makan bersama datuknya.



Air mata lelaki tua meleleh mengenang nasibnya diperlakukan begitu. Ketika itu dia teringat kampung halaman yang ditinggalkan. Dia terkenang arwah isterinya. Lalu perlahan-lahan dia berbisik:"Miah... buruk benar layanan anak kita pada abang."



Sejak itu, lelaki tua merasa tidak selesa tinggal di situ. Hari-hari dia diherdik kerana menumpahkan sisa makanan. Dia diperlakukan seperti hamba. Pernah dia terfikir untuk lari dari situ, tetapi mengenangkan cucunya, dia menahan diri. Dia tidak mahu melukakan hati cucunya. Biarlah dia menahan diri dikelar dan dicalar anak menantu. Suatu malam, Viva terperanjat melihat datuknya makan menggunakan pinggan kayu, begitu juga gelas minuman yang diperbuat daripada buluh. Dia cuba mengingat-ingat, di manakah dia pernah melihat pinggan seperti itu.



"Oh! Ya..." bisiknya.Viva teringat, semasa berkunjung ke rumah sahabat papanya dia melihat tuan rumah itu memberi makan kucing-kucing mereka menggunakan pinggan yang sama.



"Taklah pecah lagi, kalau tak, nanti habis pinggan mangkuk mama," kata Rina apabila anaknya bertanya.



Masa terus berlalu. Walaupun makanan berselerak setiap kali waktu makan, tiada lagi pinggan atau gelas yang pecah. Apabila Viva merenung datuknya yang sedang menyuap
makanan, kedua-duanya hanya berbalas senyum. Seminggu kemudian, sewaktu pulang dari bekerja, Arwan dan Rina terperanjat melihat anak mereka sedang bermain dengan kepingan-kepingan kayu. Viva seperti sedang membuat sesuatu. Ada penukul, gergaji dan pisau di sisinya.



"Eh, apa sayang buat ni? Berbahaya main benda-benda ni," kata Arwan menegur manja anaknya. Dia sedikit hairan bagaimana anaknya dapat mengeluarkan peralatan itu, sedang ia disimpan di dalam stor.



"Nak buat pinggan, mangkuk dan gelas untuk ayah dan emak. Bila Viva besar nanti, taklah susah cari. Kesian ayah, terpaksa ke bandar beli pinggan atuk," kata Viva.



Gamam mendengar jawapan anaknya, Arwan terkedu. Perasaan Rina terusik. Kelopak mata kedua-duanya bergenang. Jawapan Viva menusuk, seluruh tangkai jantung dirasa seperti dihiris sembilu. Mereka benar-benar rasa bersalah! Malam itu Arwan memimpin tangan ayahnya ke meja makan. Rina menyenduk nasi dan menuang minuman ke dalam gelas. Nasi yang tumpah tidak dihiraukan. Viva beberapa kali memandang ibunya, kemudian ayah dan akhir sekali wajah datuknya. Dia tidak bertanya, cuma tersenyum selalu bagi menyatakan rasa seronok duduk bersebelahan datuknya di meja makan. Lelaki tua itu juga tidak tahu kenapa anak menantunya tiba-tiba berubah.



"Esok Viva buang pinggan kayu tu, nak buat apa?" kata Viva pada ayahnya selepas makan.



Arwan hanya mengangguk, tetapi dadanya terus sebak.



~Hargailah kasih sayang kedua orang tua kita. Ibu bapa kita hanya satu, perginya tidak akan ada pengganti. Jadi, berbaktilah kepada mereka selagi hayat dikandung badan~








Dan hendaklah engkau merendah diri kepada keduanya kerana belas kasihan dan kasih sayangmu, dan doakanlah (untuk mereka, dengan berkata): "Wahai Tuhanku! Cucurilah rahmat kepada mereka berdua sebagaimana mereka telah mencurahkan kasih sayangnya memelihara dan mendidikku semasa kecil." (Al-Israa' 17: 24)



emmm....mybe dh ade yg penah bace cite ni kot...
tp sje je nk post kat cni supaya sape2 yg x nah baca leyla bace....~he




teruskan membaca lagi sahabat...

SEORANG ahli hikmah masuk ke dalam sebuah kampung dengan mengenderai
seekor keldai. Beliau yang memakai serban besar kelihatan begitu letih
dan ingin skali berehat di kampung itu sebelum meneruskan kembaranya.

Melihat ahli hikmah itu datang ke kampung mereka,orang kampung
itu pun segera menyambutnye.

"Assalamualaikum orang alim,"sapa seorang lelaki.

"Selamat datang tuan,"sapa seorang yang lain.

Tidak lama kemudian,hebohlah satu kampung tu . Semua orang keluar
menyambot ahli hikmah tu..(berebot2 dorg nk slm).



"t0long ajarkan kami,...please(99x),"pinta mereka.

"jadilah cikgu kt0rg....,".

"syukur nta datang.klo x jahillah ktorang semua."

Ahli hikmah tu pn rse pelik sangat sampai dahinya yang licin tu
bertukar membentuk 1000 kerut.Lalu dia pun turun dari keldainya.
Dan b'tanye,
"Macamane korang semua ni tahu aku ni orang alim
Orang2 kampung itu pn menjawab,
"Sebab ktorang tengok serban tuan besar beben0r.Kalo pakai
serban besar2 ni besenye byk ilmu. Please tuan,tolonglah ajar
kt0rg...,"

"0w itu macam ka,"
lalu sambil tersenyum ahli hikmah itu pn membuka serbannya yg
besar beben0r itu dan terus memakaikannya di atas kepala keldai
kesayangannya.

"Ha sekarang keldaiku memakai serban yg besar.Silakan kamu semua
belajar dengannya."

Tercengang + ternganga semua orang kampung. Tidak sangka mereka
telah mendapat 'FIRST LESSON' daripada ahli hikmah itu dengan cara
yang begitu bersahaja,tetapi sangat sinis sekali.

hmmm,betullah kata orang.pengajaran tu kdang2 pahit ckit,ye dak.

itulah,orang skang ni ramai yg still ukur nilai dalaman seseorang
tu ikot rupa luar dia.walaupun memanglah rupa luar tu penting sbgai
petanda baik or buruk peribadi sseorg tu,tapi sikap terlalu cepat
menilai,menerima atau menolak seseorang hanya berdasarkan pakaian,
kelulusan,gelaran atau lain2 ukuran fizikal atau material adalah
tidak tepat sama sekali!

so,DON'T JUDGE THE BOOK BY IT'S COVER..PAKAIAN,hanyalah
umapama 't0peng' yang kita pakai. Tak salah pakai topeng yg baik
malah bagus what pakai baek2...but then pastikan bahawa kita ni
adalah lebih baik daripada topeng yang kita pakai!..so semua,
jagelah penampilan..=p


teruskan membaca lagi sahabat...







p/s:semoga anda semua mengambil segala iktibar dan segala info yang berguna..


teruskan membaca lagi sahabat...





Kisah benar yang mencuit kalbu, lucu dan terharu!

Seorang jejaka biasa, tidak lawa dan tidak berharta.
Dia terpikat gadis di sebelah rumahnya, pada akhlak, agama dan tidak kurang pula rupa parasnya.
Dia ingin berkenalan, tetapi segan.
Ingin bertegur sapa



tetapi tidak tahu bagaimana.
Akhirnya dia memberanikan diri, merisik ahli keluarga serta tuan punya diri.
Tanpa diduga hasrat hatinya bersahut, pinangannya disambut.

Suatu hari dia mengajak tunangnya keluar makan di sebuah restoran yang cantik.
Mereka memilih tempat duduk yang agak tersorok.
Oleh kerana itulah kali pertama keluar berduaan dengan perempuan dia menggelabah tak keruan. Tiada sepatah kata mampu diucapkan.
Begitu juga dengan si gadis. Tetapi dia lebih tenang dan dapat mengawal perasaan.
Diperhatinya si jejaka yang keresahan. Pun tidak tahu bagaimana nak mulakan bicara. Pabila mata bertentang, hanya senyuman terukir di bibir.
Tiba-tiba jejaka memanggil pelayan: “Saudara, bawakan sedikit garam untuk kopi saya!”
Si gadis memandang penuh keheranan. Seumur hidupnya tidak pernah mendengar air kopi dibubuh garam?
Dia mengambil garam yang dibawa oleh pelayan dan meletakkan satu camca ke dalam cawan kopi dan meminumnya.
Gadis bertanya kenapa minum kopi dengan garam?
Dia menceritakan bahawa dia dibesarkan di sebuah kampong yang terletak di tepi pantai. Dia sangat suka bermain di pantai dan mandi manda di dalam laut yang masin airnya.
Air kopi yang masin menyingkap kenangan manis zaman kanak-kanaknya serta kedua ibu bapanya yang banyak berjasa, mendidik dan membesarnyakan.
Dan dia meneruskan bicara dengan suara yang perlahan, sedang air mata bergenang dibirai matanya.
“Kini mereka berdua telah berpindah ke alam baqa’. Moga-moga Allah cucuri rahmat ke atas roh mereka berdua”.
Bicara tulus yang terbit dari hati yang mulus benar-benar menyentuh hati si gadis. Tanpa disedari airmatanya turut berjurai menghiasi pipi. Jauh di lubuk hati dia bersyukur pada Ilhali yang telah mempertemukan dia dengan jejaka yang penyayang, setia dan berbakti kepada ibu dan bapa. Dia bersyukur kerana Allah telah memakbulkan apa yang dipintanya di dalam doanya selama ini.
Itulah kali pertama dan terakhir mereka keluar bersama sebelum diijab qabulkan sebagai suami isteri yang sah.
Hiduplah mereka berdua aman damai dalam sebuah rumahtangga yang bahagia. Setiap kali dia membancuh kopi untuk suaminya, diletakkannya secamca garam kerana itu yang digemari suaminya.
Selama 40 tahun melayari bahtera rumahtangga, mereka telah dikurniakan cahaya mata yang diasuh dengan sempurna.
Anak pertama dan kedua menjadi pakar bedah, anak ketiga seorang jurutera, anak keempat seorang peguam, anak kelima pakar sakit puan dan anak keenam belum tamat pengajian.
Kini, bapa yang penyayang telah pergi menyambut seruan Ilahi.
Beberapa hari selepas pemergiannya ibu menjumpai sepucuk surat yang ditulis untuknya. Surat itu berbunyi:
Wahai isteriku tersayang, ibu kepada anak-anakku tercinta, maafkan aku. Sesungguhnya aku telah membohongimu satu kali sepanjang hidupku. Pastinya kau masih ingat saat kita keluar bersama di sebuah restoran. Aku menggigil, perasaanku bercelaru. Aku telah meminta pelayan membawakan garam untuk air kopiku. Sebenar aku hendak meminta gula, tapi tersebut garam. Aku malu untuk mengakui kesilapanku. Lalu aku terus minum air kopi yang dicampur garam.
Aku ingin berterus terang denganmu selepas itu. Namun aku tidak sanggup kerana bimbang kau akan menuduh aku seorang yang pandai menipu. Maka aku berjanji kepada diriku tidak akan membohongimu lagi sepanjang hidupku. Cukuplah sekali itu.
Wahai isteriku, kesayanganku. Sesungguhnya aku tidak suka kopi yang dicampur garam. Rasanya pelik. Tapi itulah yang aku teguk sepanjang hidupku bersamamu selama 40 tahun. Ia tidak menjadi masalah kepadaku. Cinta dan kasih sayangmu menghapus segala rasa yang tidak enak kopi yang bergaram. Aku tetap bahagia. Sekiranya ditakdirkan Allah aku bisa hidup sekali lagi di dunia ini, pasti aku akan memilih hidup bersamamu meskipun aku terpaksa meminum kopi dengan garam lagi. Tetapi apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik dan lebih kekal. Aku berharap Dia akan menghimpunkan kita kembali di sisiNya di dalam syurga yang abadi…
Air matanya mengalir deras membasahi sekeping kertas yang terhampar diribaannya. Dia menangis sepuas-puasnya bagaikan kanak-kanak yang kematian ibu.
Suatu hari salah seorang anaknya bertanya: Mama apa rasa minum kopi dengan garam?
Dengan linangan air mata dia menjawab: “Itulah kenangan hidupku. Ia lebih manis daripada gula!”


teruskan membaca lagi sahabat...

Labels

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Chat Box